Selasa, 23 Desember 2008
Denver Test
Melodi
Dentingan piano itu menyiksaku lagi. Membawa angan-anganku yang hampa terbang ke dalam dunia yang penuh ekspektasi. Sebersit harapan terbit dan begitu cepatnya terbenam. Seolah-olah hanya ingin membuatku tersadar. Dentingan itu lagi-lagi membawa senyumnya, matanya yang tajam bak seekor elang ingin menangkap mangsanya. Bukannya takut, justru aku mencarinya, layaknya mangsa yang siap menghadapi kematian yang begitu indah. Sekilas bayangannya hadir kembali membuka paksa pintu hati yang sengaja ku kunci untuknya. Semakin ku tahan semakin terdobraknya pintu itu. Mudah saja, aku hanya cukup meninggalkan dentingan piano itu dan semua pikiranku akan kembali tertata dengan rapi. Acap kali kulakukan itu, tapi dentingan itu membawa serta perasaan yang tak terbendung lagi keinginannya untuk membuka paksa hatiku, membebaskannya karena terlalu lama aku sakit karenanya.
Gerendel pintu itu pun patah, tak sanggup lagi menahan amukan emosi dari sisi yang lain. Dan seketika itu pun mengalirlah perasaan yang telah lama membeku. Begitu derasnya mengalir seirama dengan mengalirnya darah darah di nadi ku kembali. Air mata ini pun menunjukkan kebersamaannya, mengalun deras bersama dengan mengalirnya nada-nada itu. Tanpa permisi, kenangan itu berlari dalam pikiranku membawa serta foto-foto tentang tatapannya,senyumnya,bicaranya, candanya,kecupannya, amarahnya, dinginnya, kelembutannya, kejujurannya, jari-jarinya yang bermain lincah diatas tuts-tuts piano yang sedang kutatap saat ini, dan tentang lirihannya saat merengkuh kesakitan di pelukku. Sebuah emosi yang begitu kutakutkan.
Tuts-tuts ini memainkan hatiku, sangat sakit. Tak ada lagi kematian yang indah. Tanpa suara aku menangis, mencoba memahami makna rintikan air mata yang jatuh. Karena aku hampir tak punya daya lagi untuk bersuara. Hatiku sudah kehilangan nyawanya akibat ulah alunan melodi yang semakin menemukan klimaksnya. Begitu lemahnya hingga aku berteriak di dalam hati, aku sudah lelah menangis saat teringat akan mu, akan kenanganmu, kenangan indah yang sekarang berubah menjadi begitu menyiksa. Aliran perasaan ini berhenti, membuat aliran air mata ini juga ikut berhenti tapi aku mau aliran di nadi ku ini tetap mengalir. Tak sanggup lagi jika aku harus menghentikan aliran itu jika semua aliran mengalir.
Segelas wine yang 2tahun menemaniku telah memiliki maknanya yang terakhir, mengganti pintu ku dengan yang baru, tak cukup hanya mengganti gerendel jika ingin selalu hidup. Hanya kusisakan gantungan hiasan yang lama di pintuku yang baru. Dan itu cukup indah. Cukup, tidak lebih tidak kurang. Alunan melodi itu segera berakhir dengan desert yang indah untuk menutup kesedihanku. Selembar tisu cukup untuk membuatku bangkit, melapisi kembali hatiku dengan perasaan yang baru yang tak mudah membeku. Aku pun beranjak pergi dan mengucap janji tak akan kembali, tidak dengan segelas wine dan air mata. Aku mau menjengukmu sayang, setelah sekian lama. Karena aku tak sanggup melihatmu membujur kaku dibawah bangunan persegi panjang yang ditulisi namamu dan tanggal saat kau pergi. Dan tak sanggup melihat anak-anak kita menitikkan air mata di wajahnya yang lucu. Tunggu aku sayang.
Bundaku sayang..

Cerita ini untuk ibuku... the superhero mom...
Belum habis sisa makanan di piringku, namun aku sudah merasa kenyang. Mungkin aku tak bisa lagi menghabiskannya, bukannya ku tak mau. Sejenak aku beristirahat setelah makan, duduk melamunkan hidupku dengan tatapan hampa. Asik juga pikirku, Bunda sedang ke rumah temannya, jadi aku tidak perlu belajar. Aku lelah kalau setiap hari dikejar-kejar Bunda untuk belajar. Kata Bunda, supaya pintar, jangan mau dikalahkan oleh orang diluar sana. Aku tau maksud Bunda, tapi aku merasa percuma saja aku belajar. Bunda mendaftarkanku les piano, les vokal, dan memasukkanku ke sekolah yang istimewa. Begitu perhatiannya Bunda akan pendidikanku, tapi aku butuh yang lain.
Aku sepertinya butuh secercah cahaya di kehidupanku. Entahlah, padahal Bunda telah memberi semua yang kuinginkan. Tapi aku ingin yang lain. Orang diluar sana sepertinya merasakan kebahagiannya dengan jelas, tapi aku? Aku belum cukup bahagia. Aku hanya hidup dalam bayang-bayang Bundaku, pikirku. Aku ingin merasakan indahnya sinar mentari yang bebas, tapi selalu saja tidak bisa. Aku ingin memandang bunga-bunga indah disana dengan perasaan bahagia, tapi juga tetap tidak bisa. Sepertinya aku memang tidak bisa bahagia, walau sudah memandang hal-hal yang penuh keindahan.
Bunda, berikan aku satu hal itu! Satu hal yang selalu kunantikan setiap hari. Apa? Kasih sayang? Tidak. Aku tidak butuh itu. Kenapa Bunda selalu memberikan kasih sayang ini kasih sayang itu, bermacam-macam kasih sayang. Aku sudah hapal semua jenis kasih sayang Bunda. Ah, Bunda tetap saja tidak bisa memberikan yang satu itu. Kalau begitu, dengan demikian Bunda tidak sepenuhnya sayang padaku.
Di tengah lamunanku, Bunda pun akhirnya pulang. Bunda menghampiriku, bertanya padaku mengapa aku menekuk mukaku dan menyembunyikan senyumku saat dihampiri Bunda. Aku cemberut layaknya anak kecil yang tidak diberi permen. Aku merengek-rengek meminta hal itu, Aku menyalahkan Bunda dan menyesali semua yang ada padaku.
“Bunda, apa Bunda tidak bisa memberiku secercah cahaya itu? Kenapa semua terjadi padaku, Bunda? Memangnya salahku apa sih? Bunda tau? Aku tidak sepenuhnya bahagia dengan keadaan ini.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, tajam bak sebilah pedang yang menghujam hati Bundaku. Baru pertama kali aku membuat Bunda menangis.
“Nak, Bunda tau, tapi Bunda tidak bisa, tidak tau caranya. Memang, kasih sayang Bunda tidak cukup untuk menghidupimu dengan keadaan yang layak, keadaan yang bahagia. Asal kau tau, Bunda juga sakit nak melihatmu seperti ini.” Kata-kata Bunda mengalun penuh lirih, kudengar isak tangisnya perlahan seolah sudah dipersiapkan sedari dulu jika aku memang akan menanyakan hal ini. Seluruh jalur-jalur sarafku bekerja membuat tubuh ini seakan tersetrum oleh ucapan Bunda. Aliran listrik yang melumpuhkan hati yang penuh kerasnya.
Isakan tangisnya membuatku tersadar begitu beratnya perjuangan Bunda, begitu besarnya pula ia menginginkan agar aku tetap mendapat kehidupan normal. Semuanya, apa yang telah kudapat selama ini hasil kerja payah Bunda yang merawatku. Bunda bisa saja menyewa pembantu untuk merawatku, tapi tidak ia lakukan, ia ingin anaknya tumbuh dalam asuhannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya aku ikhlas menerima semua ini, keikhlasan yang menjadikan semuanya terasa indah sekarang, aku bahagia sepenuhnya, seutuhnya, tanpa syarat lagi dan itu karena berbagai jenis kasih sayang mu, Bunda. Berbagai jenis kasih sayangnya telah menutupi berbagai jenis kegalauan dan keredupan hati ini.
“Bunda, aku tidak dapat membaca buku begitu pula membaca hatimu, aku hanya dapat meraba setiap kode-kode yang ada di dalamnya, dapatkah juga aku meraba hatimu, meraba semua sakit hati Bunda karenaku dan akan kuhapus dengan segera?”
“Tak perlu meraba nak, hati Bunda sudah kau peluk dengan hangatnya begitu kau lahir ke dunia ini, tanpa sekalipun Bunda merasa kau melepasnya. Bunda akan menjadi mata bagimu, mencarikanmu secercah cahaya, dan mentransformasikannya dalam bentuk yang paling indah untuk Bunda serahkan kepadamu.”
Aku sayang Bunda. Dan aku merasa memiliki mata yang sempurna.
Keliru

Hampir satu jam aku terduduk di taman untuk menanti. Bukan karena dia yang terlambat melainkan aku yang terlalu datang cepat. Aku mau beradaptasi dengan lingkunganku, sekelilingku, untuk bertemu dengannya. Mencoba mengatasi kecanggunganku jikalau ia benar-benar datang. Kadang kita perlu mempersiapkan segalanya untuk menemui seseorang yang kita anggap penting untuk ditemui. Benar-benar penting ataukah kita anggap penting?
Sudah bertahun- tahun aku menunggunya layaknya lilin ulang tahun yang menunggu untuk ditiup. Bahkan selama ini ia tak pernah datang dalam tiupan lilin ulang tahun ku, mengapa aku masih ingin bertemu dengannya? Ia meninggalkanku begitu saja, tanpa alasan yang masih belum bisa kupahami. Aku hanya bisa menangis, merintih, begitu kesakitan hingga membuat ibuku teriris dan menangis bersamaku, ikut masuk dalam ruangan kepedihanku. Ruangan yang kucoba ku tutup rapat-rapat namun apa daya, selalu ku temukan cara kembali ke ruangan itu.
Masih 30 menit lagi sebelum ia datang, dan aku sedari tadi masih belum bisa memikirkan apa yang hendak kuucapkan padanya. Lamunanku menjelajahi kembali kenangan-kenangan yang ada. Begitu bahagianya aku saat itu hingga aku tak mengira aku akan segera masuk dalam jurang kepedihan. Candanya yang selalu membuat air mata ini berhenti menetes. Ucapannya yang selalu menenangkan hati. Ia menghilang, aku sekarat membuat separuh bahkan seluruh denyut kehidupanku terenggut. Mati rasa aku karenanya. Ia yang mengajarkanku cinta, jatuh dalam trampolin cinta, begitu jatuh kau akan dibawanya melayang, menggapai semua inginmu. Indah memang, tapi tidak saat ini.
Lamunanku masih belum bisa mengeluarkan intinya, yang harus aku ucapkan kepadanya. Haruskah aku marah, menangis, atau bahagia? Sebuah perasaan diambang kebimbangan. Sedikit penyesalan terbersit, mengapa tidak menemuinya di rumah, mengapa di luar? Di alam bebas, alam yang begitu kutakutkan. Takut menghadapi bahwa semua nya tidaklah berjalan sesuai keinginan kita. Tapi aku adalah aku, aku yang lebih tegar, ia tak kan bisa membuatku menangis lagi, membuat air mata ku terurai jatuh serupa dengan jatuhnya aku saat memintanya untuk tidak pergi.
Aku tahu, aku harus marah. Ia telah menjadi salah satu kerikil dalam hidupku. Kerikil yang begitu melukai hati yang bersih ini, dan tanpa dosa. Perlahan-lahan amukan emosi memenuhi diri ini. Penuh dengan berbagai tanya mengapa ia meninggalkanku, hingga ia jauh dari kehidupanku kini. Ia jahat, ia yang merubahku menjadi sesosok manusia yang dingin, kaku, dan tanpa daya. Aku benci dia. Aku harus marah padanya, meminta pertanggungjawaban atas semua kepedihan yang ia torehkan dalam hatiku. Begitu dalam. Tapi bagaimanapun, ia pernah membuatku jatuh cinta.
Sudah 5 menit lewat dari jam yang kita tentukan. Kemarin ia menelfonku untuk pertama kalinya dan membuatku terhenyak karena meminta untuk bertemu. Aku sudah lupa wajahnya dengan pasti, hanya samar-samar bayangannya selalu muncul di pikiranku. Yang ku hafal dia memiliki senyum yang mendamaikan hati, mungkin kali ini juga begitu.
Tiba-tiba lamunanku dikejutkan oleh sirine mobil polisi yang datang ke arahku, dan kemudian parkir dipinggir jalan dengan rapi. Pikiranku kosong, apakah ini? Pintu mobil dibuka, seorang polisi keluar diikuti oleh seorang laki-laki tua dan tidak terurus menghampiriku. Ia dikawal dengan ketatnya, menuju kearahku. Sejenak dia menatapku tajam, dan tersenyum padaku. Aku kenal senyuman ini. Begitu lama kita berpandang-pandangan tanpa sepatah katapun terucap. Dinginnya malam ini membekukan mulut kita.
“ Kau Amelia?” kata-katanya untuk pertama kali. Ia menyebut namaku.
“Aku…ayahmu, nak.” Seketika itu juga ia memelukku erat, aku kenal pelukan ini. Pelukan masa kecilku, pelukan yang mengantarkanku untuk tidur. Ia menangis, air matanya membasahi pundakku. Hatiku renyuh, aku merasa tak mampu lagi berdiri. Aku baru saja tahu rahasia ini, ayahku tidak meninggalkanku. Ia terenggut dari kehidupanku menuju jeruji besi yang kejam. Aku telah salah sangka padamu ayah. Aku menangis, mengingkari janjiku untuk tidak menangis karenanya. Begitu eratnya kita berpelukan sehingga tak perlu lagi kata-kata untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Aku tahu ia tahu aku tidak marah. Detak jantungnya, detak jantungku mengirimkan kode-kode morse yang tak perlu diisyaratkan lagi.
Semua usai pikirku, sampai seorang polisi berkata padaku bahwa bertemu denganku adalah keinginan terakhir ayahku sebelum ia dihukum mati. Aku merasa nyawaku tercabut paksa, lagi-lagi aku sekarat. Aku memeluknya lebih erat, takut kehilangan lagi. Deras air mataku mengalir, tak ubahnya air matanya.
“Maafkan ayah nak.” Hanya itu kata-kata yang diucapkannya,selebihnya adalah tangisnya, dan tangisku. Perasaan ini memuncak dalam kesedihan. Semua didiriku tahu ini adalah puncak kesedihanku, membawaku jatuh tapi bukan jatuh di trampolin cinta melainkan jatuh dalam jurang. Dan aku tahu aku tak sanggup karenanya.
Seorang polisi menepuk pundaknya, menandakan sudah cukup waktunya. Ia melepaskan pelukanku. Aku tidak mau, tapi aku dipaksa. Ayahku dibawa kembali ke mobil dengan paksa. Aku mengejarnya, merebutnya dari tangan-tangan polisi yang begitu dingin. Tapi aku terjatuh, sama seperti dulu waktu aku memintanya untuk tidak pergi. Aku menangis setengah berteriak memintanya untuk tidak pergi. Tapi aku tak punya daya, mobil itu segera pergi dari jangakauanku, membawa tangisnya yang juga terdengar jelas saat itu.
Aku nelangsa, aku merasakan sedih yang teramat sangat. Kembali terduduk dengan lesu. Menangis merintih, memasuki ruangan kepedihanku yang terbuka dengan sendirinya. Dan segera itu langitpun meneteskan air-air matanya. Hujan membuatku semakin basah, berlomba-lomba dengan air mataku untuk membasahi wajahku. Ayah..
Senin, 22 Desember 2008
Selamat Hari Ibu...
kalau belum, marilah ucapkan.. hargai harinya,, karena ibu bukan lah hanya seorang wanita yang melahirkanmu dan membesarkanmu, tetapi ibu memiliki makna yang lebih dari semua itu.
Selasa, 09 Desember 2008
I LOVE TULIP

Klw ada orang yang nanya aku suka bunga apa,, langsung kujawab TULIP!!! warna apa?? KUNING!!
entah kenapa bunga ini menarik perhatianku sejak lama, mungkin karena bentuknya yang simple dan elegan, dan anggun..
semua gambar ku waktu sma tentang tulip, dikit2 tulip,, hmm,, indah banged tulip itu, seindah tempat aslinya berada ( di Belanda, of course)..
Menurut Florapedia, tulip itu kan banyak jenis2 warnanya,,tapi secara umum tulip itu melambangkan ungkapan cinta sejati.. tapi beda2 juga maknanya tiap warna tulip :
- Tulip merah : true love, cinta sejati
- Tulip ungu : kemewahan
- Tulip kuning : harapan cinta, pernyataan bergembira
- Tulip putih : penghargaan atau ucapan maaf
well,, actually yellow tulip describe me now.. hehehe...
klaten- jogjaaaa...
awesome...
Sabtu, 06 Desember 2008
Paris Je T'aime
Ia memakai mantel merah yang ia janjikan akan dibuang. Tapi selalu ia keluarkan dari lemarinya tahun demi tahun.
Ia selalu seperti itu pada banyak hal.
Dan itulah yang membuatnya tertarik pada istrinya di perkenalan pertama.
Baju yang sama yang dipakai berulang-ulang kali.
Bagian hidup yang kini menjadi asing baginya.
Dan ingin ia tinggalkan diantara hidangan utama dan penutup.
Istrinya pun memasuki restoran. Ia merasa nyaman dengan tempat yang ia pilih untuk meninggalkannya. Di sinilah pertama kalinya ia sadar, ia telah berhenti mencintainya. Saat istrinya tersenyum, ia hampir menjerit "Aku akan meninggalkanmu! Berhentilah tersenyum!" Tapi ia malah menawari anggurnya.
Itu pula yang membuatnya kesal. Istrinya tak pernah memesan makanan kecil atau penutup. Tapi selalu hampir menghabiskan porsi pesanannya.
Parahnya, ia selalu memesan makanan kesukaan istrinya. "Aku tak yakin aku suka kue itu," pikirnya dalam hati.
Saat istrinya tiba2 menangis, ia berpikir bahwa istrinya tahu bahwa ia akan meninggalkannya ke pelukan Marie-Christine. Seorang pramugari cantik, yang ia cintai selama 1,5 tahun ini. "Ia tahu," pikirnya.
Aku seharusnya sudah menduganya.
Sambil menangis, istrinya mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. Dan memberikan padanya. Dengan bahasa medis yang dingin, dokumen itu menyatakan dia menderita leukimia tahap akhir.
Dalam sekejap, ia melupakan maksud pertemuan mereka. Dan terdengar suara tegas.. "Kau harus mengatasi masalah itu!"
Dan ia melakukannya Ia memesan 3 potong kue untuk dibawanya pulang.
Dan mengirim SMS pada kekasih gelapnya. "Lupakan aku". Sergio.
Ia melimpahi sang istri dengan perhatian.
Ia menggantung lukisan, memindahkan perabotan.
Ia menemaninya ke bioskop pagi, menonton film kesukaan istrinya.
Ia menemaninya berbelanja, meski ia benci berbelanja.
Ia membacakan "Sputnik, My Love" karya Murakami.
Dan semuanya, bahkan hal yang paling sepele punya makna berbeda.
Karena ia tahu ia melakukannya pada istrinya untuk terakhir kali.
Meskipun awalnya hanya berpura-pura tapi akhirnya ia benar-benar jatuh cinta.
Ia sekali lagi menjadi pria yang sedang jatuh cinta.
Dan ketika sang istri meninggal dalam pelukannya, semangatnya pun mati tanpa bisa ia bangkitkan lagi. Bahkan setelah beberapa tahun berlalu hatinya teriris setiap kali melihat wanita bermantel merah.
"diambil dari salah satu cerita di film Paris, Je T'aime" one of the inspiring story, for me.
Doa Seorang Peminta
Izinkan aku mengeluh padamu
Dengan segala kelemahan hati ini
Tak bermaksud menyaingi rayanya kekuasaanmu
Tuhan
Mengapa Kau beri kesedihan?
Padahal yang ku minta kebahagiaan
Tuhan
Mengapa Kau beri kesendirian?
Padahal yang ku minta keramaian
Tuhan
Mengapa kau beri kebencian?
Padahal yang ku minta kasih sayang?
Tuhan
Mengapa Kau beri kelemahan?
Padahal yang ku minta keteguhan
Tuhan
mengapa Kau tidak pernah memberi apa yang kupinta?
Atau akankah semua itu datang setelahnya?
Tapi Tuhan
Aku tidak akan bosan meminta kepadaMu
Dan aku pinta berilah aku yang terbaik
amin.
*ditulis saat aku merasa sepi, tapi aku tau aku ga pernah sendirian, Allah selalu bersamaku*
Jumat, 05 Desember 2008
Efek uJian,,,

UJAAAANNN!!! EH SALAH,, UJIAAAANNN,,,
wow,,, mendengar kata itu seolah2 dunia mau runtuh,, ah terlalu lebay,, hehe..
sama seperti blok2 yang sebelumnya,, belajarnya H-15,, (15 menit maksudnya) ...
belajar yang sangad singkat itu membuatku pusiing,,, minum kopi ini, kopi itu biar ga ngantuk,, ngemil sana ngemil sini sampe genduuuttt,, tapi ternyata di sela2 belajar aku sempet maen2 juga,,, berfoto ria dengan tampang kuceLL,, hehehe




