Sabtu, 06 Desember 2008

Paris Je T'aime

Ia memandang istrinya, yang menyebrangi jalan.
Ia memakai mantel merah yang ia janjikan akan dibuang. Tapi selalu ia keluarkan dari lemarinya tahun demi tahun.

Ia selalu seperti itu pada banyak hal.
Dan itulah yang membuatnya tertarik pada istrinya di perkenalan pertama.

Baju yang sama yang dipakai berulang-ulang kali.
Tumpukan lipstik yang tak pernah dipakainya.
Lagu yang ia senandungkan sambil memasak quenelle.
Bagian hidup yang kini menjadi asing baginya.

Dan ingin ia tinggalkan diantara hidangan utama dan penutup.
Istrinya pun memasuki restoran. Ia merasa nyaman dengan tempat yang ia pilih untuk meninggalkannya. Di sinilah pertama kalinya ia sadar, ia telah berhenti mencintainya. Saat istrinya tersenyum, ia hampir menjerit "Aku akan meninggalkanmu! Berhentilah tersenyum!" Tapi ia malah menawari anggurnya.
Itu pula yang membuatnya kesal.
Istrinya tak pernah memesan makanan kecil atau penutup. Tapi selalu hampir menghabiskan porsi pesanannya.
Parahnya, ia selalu memesan makanan kesukaan istrinya. "Aku tak yakin aku suka kue itu," pikirnya dalam hati.
Saat istrinya tiba2 menangis, ia berpikir bahwa istrinya tahu bahwa ia akan meninggalkannya ke pelukan Marie-Christine. Seorang pramugari cantik, yang ia cintai selama 1,5 tahun ini. "Ia tahu," pikirnya.
Aku seharusnya sudah menduganya.

Sambil menangis, istrinya mengeluarkan kertas dari dalam tasnya. Dan memberikan padanya. Dengan bahasa medis yang dingin, dokumen itu menyatakan dia menderita leukimia tahap akhir.
Dalam sekejap, ia melupakan maksud pertemuan mereka.
Dan terdengar suara tegas.. "Kau harus mengatasi masalah itu!"
Dan ia melakukannya
Ia memesan 3 potong kue untuk dibawanya pulang.
Dan mengirim SMS pada kekasih gelapnya. "Lupakan aku". Sergio.

Ia melimpahi sang istri dengan perhatian.
Ia menggantung lukisan, memindahkan perabotan.

Ia menemaninya ke bioskop pagi, menonton film kesukaan istrinya.

Ia menemaninya berbelanja, meski ia benci berbelanja.

Ia membacakan "Sputnik, My Love" karya Murakami.

Dan semuanya, bahkan hal yang paling sepele punya makna berbeda.

Karena ia tahu ia melakukannya pada istrinya untuk terakhir kali.

Meskipun awalnya hanya berpura-pura tapi akhirnya ia benar-benar jatuh cinta.

Ia sekali lagi menjadi pria yang sedang jatuh cinta.

Dan ketika sang istri meninggal dalam pelukannya, semangatnya pun mati tanpa bisa ia bangkitkan lagi.
Bahkan setelah beberapa tahun berlalu hatinya teriris setiap kali melihat wanita bermantel merah.


"diambil dari salah satu cerita di film Paris, Je T'aime"
one of the inspiring story, for me.

1 komentar:

adrianhasdi mengatakan...

Paris Je T'aime

haha..my favorite french movie so far :)

i even clipped every single chapter of the movie..

i love the chapter where a father walked with his daughter,,
i thought, in the beginning, they were a couple in affair...haha..