Dentingan piano itu menyiksaku lagi. Membawa angan-anganku yang hampa terbang ke dalam dunia yang penuh ekspektasi. Sebersit harapan terbit dan begitu cepatnya terbenam. Seolah-olah hanya ingin membuatku tersadar. Dentingan itu lagi-lagi membawa senyumnya, matanya yang tajam bak seekor elang ingin menangkap mangsanya. Bukannya takut, justru aku mencarinya, layaknya mangsa yang siap menghadapi kematian yang begitu indah. Sekilas bayangannya hadir kembali membuka paksa pintu hati yang sengaja ku kunci untuknya. Semakin ku tahan semakin terdobraknya pintu itu. Mudah saja, aku hanya cukup meninggalkan dentingan piano itu dan semua pikiranku akan kembali tertata dengan rapi. Acap kali kulakukan itu, tapi dentingan itu membawa serta perasaan yang tak terbendung lagi keinginannya untuk membuka paksa hatiku, membebaskannya karena terlalu lama aku sakit karenanya.
Gerendel pintu itu pun patah, tak sanggup lagi menahan amukan emosi dari sisi yang lain. Dan seketika itu pun mengalirlah perasaan yang telah lama membeku. Begitu derasnya mengalir seirama dengan mengalirnya darah darah di nadi ku kembali. Air mata ini pun menunjukkan kebersamaannya, mengalun deras bersama dengan mengalirnya nada-nada itu. Tanpa permisi, kenangan itu berlari dalam pikiranku membawa serta foto-foto tentang tatapannya,senyumnya,bicaranya, candanya,kecupannya, amarahnya, dinginnya, kelembutannya, kejujurannya, jari-jarinya yang bermain lincah diatas tuts-tuts piano yang sedang kutatap saat ini, dan tentang lirihannya saat merengkuh kesakitan di pelukku. Sebuah emosi yang begitu kutakutkan.
Tuts-tuts ini memainkan hatiku, sangat sakit. Tak ada lagi kematian yang indah. Tanpa suara aku menangis, mencoba memahami makna rintikan air mata yang jatuh. Karena aku hampir tak punya daya lagi untuk bersuara. Hatiku sudah kehilangan nyawanya akibat ulah alunan melodi yang semakin menemukan klimaksnya. Begitu lemahnya hingga aku berteriak di dalam hati, aku sudah lelah menangis saat teringat akan mu, akan kenanganmu, kenangan indah yang sekarang berubah menjadi begitu menyiksa. Aliran perasaan ini berhenti, membuat aliran air mata ini juga ikut berhenti tapi aku mau aliran di nadi ku ini tetap mengalir. Tak sanggup lagi jika aku harus menghentikan aliran itu jika semua aliran mengalir.
Segelas wine yang 2tahun menemaniku telah memiliki maknanya yang terakhir, mengganti pintu ku dengan yang baru, tak cukup hanya mengganti gerendel jika ingin selalu hidup. Hanya kusisakan gantungan hiasan yang lama di pintuku yang baru. Dan itu cukup indah. Cukup, tidak lebih tidak kurang. Alunan melodi itu segera berakhir dengan desert yang indah untuk menutup kesedihanku. Selembar tisu cukup untuk membuatku bangkit, melapisi kembali hatiku dengan perasaan yang baru yang tak mudah membeku. Aku pun beranjak pergi dan mengucap janji tak akan kembali, tidak dengan segelas wine dan air mata. Aku mau menjengukmu sayang, setelah sekian lama. Karena aku tak sanggup melihatmu membujur kaku dibawah bangunan persegi panjang yang ditulisi namamu dan tanggal saat kau pergi. Dan tak sanggup melihat anak-anak kita menitikkan air mata di wajahnya yang lucu. Tunggu aku sayang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar