Selasa, 23 Desember 2008

Keliru


Hampir satu jam aku terduduk di taman untuk menanti. Bukan karena dia yang terlambat melainkan aku yang terlalu datang cepat. Aku mau beradaptasi dengan lingkunganku, sekelilingku, untuk bertemu dengannya. Mencoba mengatasi kecanggunganku jikalau ia benar-benar datang. Kadang kita perlu mempersiapkan segalanya untuk menemui seseorang yang kita anggap penting untuk ditemui. Benar-benar penting ataukah kita anggap penting?


Sudah bertahun- tahun aku menunggunya layaknya lilin ulang tahun yang menunggu untuk ditiup. Bahkan selama ini ia tak pernah datang dalam tiupan lilin ulang tahun ku, mengapa aku masih ingin bertemu dengannya? Ia meninggalkanku begitu saja, tanpa alasan yang masih belum bisa kupahami. Aku hanya bisa menangis, merintih, begitu kesakitan hingga membuat ibuku teriris dan menangis bersamaku, ikut masuk dalam ruangan kepedihanku. Ruangan yang kucoba ku tutup rapat-rapat namun apa daya, selalu ku temukan cara kembali ke ruangan itu.


Masih 30 menit lagi sebelum ia datang, dan aku sedari tadi masih belum bisa memikirkan apa yang hendak kuucapkan padanya. Lamunanku menjelajahi kembali kenangan-kenangan yang ada. Begitu bahagianya aku saat itu hingga aku tak mengira aku akan segera masuk dalam jurang kepedihan. Candanya yang selalu membuat air mata ini berhenti menetes. Ucapannya yang selalu menenangkan hati. Ia menghilang, aku sekarat membuat separuh bahkan seluruh denyut kehidupanku terenggut. Mati rasa aku karenanya. Ia yang mengajarkanku cinta, jatuh dalam trampolin cinta, begitu jatuh kau akan dibawanya melayang, menggapai semua inginmu. Indah memang, tapi tidak saat ini.


Lamunanku masih belum bisa mengeluarkan intinya, yang harus aku ucapkan kepadanya. Haruskah aku marah, menangis, atau bahagia? Sebuah perasaan diambang kebimbangan. Sedikit penyesalan terbersit, mengapa tidak menemuinya di rumah, mengapa di luar? Di alam bebas, alam yang begitu kutakutkan. Takut menghadapi bahwa semua nya tidaklah berjalan sesuai keinginan kita. Tapi aku adalah aku, aku yang lebih tegar, ia tak kan bisa membuatku menangis lagi, membuat air mata ku terurai jatuh serupa dengan jatuhnya aku saat memintanya untuk tidak pergi.


Aku tahu, aku harus marah. Ia telah menjadi salah satu kerikil dalam hidupku. Kerikil yang begitu melukai hati yang bersih ini, dan tanpa dosa. Perlahan-lahan amukan emosi memenuhi diri ini. Penuh dengan berbagai tanya mengapa ia meninggalkanku, hingga ia jauh dari kehidupanku kini. Ia jahat, ia yang merubahku menjadi sesosok manusia yang dingin, kaku, dan tanpa daya. Aku benci dia. Aku harus marah padanya, meminta pertanggungjawaban atas semua kepedihan yang ia torehkan dalam hatiku. Begitu dalam. Tapi bagaimanapun, ia pernah membuatku jatuh cinta.


Sudah 5 menit lewat dari jam yang kita tentukan. Kemarin ia menelfonku untuk pertama kalinya dan membuatku terhenyak karena meminta untuk bertemu. Aku sudah lupa wajahnya dengan pasti, hanya samar-samar bayangannya selalu muncul di pikiranku. Yang ku hafal dia memiliki senyum yang mendamaikan hati, mungkin kali ini juga begitu.


Tiba-tiba lamunanku dikejutkan oleh sirine mobil polisi yang datang ke arahku, dan kemudian parkir dipinggir jalan dengan rapi. Pikiranku kosong, apakah ini? Pintu mobil dibuka, seorang polisi keluar diikuti oleh seorang laki-laki tua dan tidak terurus menghampiriku. Ia dikawal dengan ketatnya, menuju kearahku. Sejenak dia menatapku tajam, dan tersenyum padaku. Aku kenal senyuman ini. Begitu lama kita berpandang-pandangan tanpa sepatah katapun terucap. Dinginnya malam ini membekukan mulut kita.


“ Kau Amelia?” kata-katanya untuk pertama kali. Ia menyebut namaku.


“Aku…ayahmu, nak.” Seketika itu juga ia memelukku erat, aku kenal pelukan ini. Pelukan masa kecilku, pelukan yang mengantarkanku untuk tidur. Ia menangis, air matanya membasahi pundakku. Hatiku renyuh, aku merasa tak mampu lagi berdiri. Aku baru saja tahu rahasia ini, ayahku tidak meninggalkanku. Ia terenggut dari kehidupanku menuju jeruji besi yang kejam. Aku telah salah sangka padamu ayah. Aku menangis, mengingkari janjiku untuk tidak menangis karenanya. Begitu eratnya kita berpelukan sehingga tak perlu lagi kata-kata untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Aku tahu ia tahu aku tidak marah. Detak jantungnya, detak jantungku mengirimkan kode-kode morse yang tak perlu diisyaratkan lagi.


Semua usai pikirku, sampai seorang polisi berkata padaku bahwa bertemu denganku adalah keinginan terakhir ayahku sebelum ia dihukum mati. Aku merasa nyawaku tercabut paksa, lagi-lagi aku sekarat. Aku memeluknya lebih erat, takut kehilangan lagi. Deras air mataku mengalir, tak ubahnya air matanya.


“Maafkan ayah nak.” Hanya itu kata-kata yang diucapkannya,selebihnya adalah tangisnya, dan tangisku. Perasaan ini memuncak dalam kesedihan. Semua didiriku tahu ini adalah puncak kesedihanku, membawaku jatuh tapi bukan jatuh di trampolin cinta melainkan jatuh dalam jurang. Dan aku tahu aku tak sanggup karenanya.


Seorang polisi menepuk pundaknya, menandakan sudah cukup waktunya. Ia melepaskan pelukanku. Aku tidak mau, tapi aku dipaksa. Ayahku dibawa kembali ke mobil dengan paksa. Aku mengejarnya, merebutnya dari tangan-tangan polisi yang begitu dingin. Tapi aku terjatuh, sama seperti dulu waktu aku memintanya untuk tidak pergi. Aku menangis setengah berteriak memintanya untuk tidak pergi. Tapi aku tak punya daya, mobil itu segera pergi dari jangakauanku, membawa tangisnya yang juga terdengar jelas saat itu.


Aku nelangsa, aku merasakan sedih yang teramat sangat. Kembali terduduk dengan lesu. Menangis merintih, memasuki ruangan kepedihanku yang terbuka dengan sendirinya. Dan segera itu langitpun meneteskan air-air matanya. Hujan membuatku semakin basah, berlomba-lomba dengan air mataku untuk membasahi wajahku. Ayah..

0 komentar: