
Cerita ini untuk ibuku... the superhero mom...
Belum habis sisa makanan di piringku, namun aku sudah merasa kenyang. Mungkin aku tak bisa lagi menghabiskannya, bukannya ku tak mau. Sejenak aku beristirahat setelah makan, duduk melamunkan hidupku dengan tatapan hampa. Asik juga pikirku, Bunda sedang ke rumah temannya, jadi aku tidak perlu belajar. Aku lelah kalau setiap hari dikejar-kejar Bunda untuk belajar. Kata Bunda, supaya pintar, jangan mau dikalahkan oleh orang diluar sana. Aku tau maksud Bunda, tapi aku merasa percuma saja aku belajar. Bunda mendaftarkanku les piano, les vokal, dan memasukkanku ke sekolah yang istimewa. Begitu perhatiannya Bunda akan pendidikanku, tapi aku butuh yang lain.
Aku sepertinya butuh secercah cahaya di kehidupanku. Entahlah, padahal Bunda telah memberi semua yang kuinginkan. Tapi aku ingin yang lain. Orang diluar sana sepertinya merasakan kebahagiannya dengan jelas, tapi aku? Aku belum cukup bahagia. Aku hanya hidup dalam bayang-bayang Bundaku, pikirku. Aku ingin merasakan indahnya sinar mentari yang bebas, tapi selalu saja tidak bisa. Aku ingin memandang bunga-bunga indah disana dengan perasaan bahagia, tapi juga tetap tidak bisa. Sepertinya aku memang tidak bisa bahagia, walau sudah memandang hal-hal yang penuh keindahan.
Bunda, berikan aku satu hal itu! Satu hal yang selalu kunantikan setiap hari. Apa? Kasih sayang? Tidak. Aku tidak butuh itu. Kenapa Bunda selalu memberikan kasih sayang ini kasih sayang itu, bermacam-macam kasih sayang. Aku sudah hapal semua jenis kasih sayang Bunda. Ah, Bunda tetap saja tidak bisa memberikan yang satu itu. Kalau begitu, dengan demikian Bunda tidak sepenuhnya sayang padaku.
Di tengah lamunanku, Bunda pun akhirnya pulang. Bunda menghampiriku, bertanya padaku mengapa aku menekuk mukaku dan menyembunyikan senyumku saat dihampiri Bunda. Aku cemberut layaknya anak kecil yang tidak diberi permen. Aku merengek-rengek meminta hal itu, Aku menyalahkan Bunda dan menyesali semua yang ada padaku.
“Bunda, apa Bunda tidak bisa memberiku secercah cahaya itu? Kenapa semua terjadi padaku, Bunda? Memangnya salahku apa sih? Bunda tau? Aku tidak sepenuhnya bahagia dengan keadaan ini.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, tajam bak sebilah pedang yang menghujam hati Bundaku. Baru pertama kali aku membuat Bunda menangis.
“Nak, Bunda tau, tapi Bunda tidak bisa, tidak tau caranya. Memang, kasih sayang Bunda tidak cukup untuk menghidupimu dengan keadaan yang layak, keadaan yang bahagia. Asal kau tau, Bunda juga sakit nak melihatmu seperti ini.” Kata-kata Bunda mengalun penuh lirih, kudengar isak tangisnya perlahan seolah sudah dipersiapkan sedari dulu jika aku memang akan menanyakan hal ini. Seluruh jalur-jalur sarafku bekerja membuat tubuh ini seakan tersetrum oleh ucapan Bunda. Aliran listrik yang melumpuhkan hati yang penuh kerasnya.
Isakan tangisnya membuatku tersadar begitu beratnya perjuangan Bunda, begitu besarnya pula ia menginginkan agar aku tetap mendapat kehidupan normal. Semuanya, apa yang telah kudapat selama ini hasil kerja payah Bunda yang merawatku. Bunda bisa saja menyewa pembantu untuk merawatku, tapi tidak ia lakukan, ia ingin anaknya tumbuh dalam asuhannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya aku ikhlas menerima semua ini, keikhlasan yang menjadikan semuanya terasa indah sekarang, aku bahagia sepenuhnya, seutuhnya, tanpa syarat lagi dan itu karena berbagai jenis kasih sayang mu, Bunda. Berbagai jenis kasih sayangnya telah menutupi berbagai jenis kegalauan dan keredupan hati ini.
“Bunda, aku tidak dapat membaca buku begitu pula membaca hatimu, aku hanya dapat meraba setiap kode-kode yang ada di dalamnya, dapatkah juga aku meraba hatimu, meraba semua sakit hati Bunda karenaku dan akan kuhapus dengan segera?”
“Tak perlu meraba nak, hati Bunda sudah kau peluk dengan hangatnya begitu kau lahir ke dunia ini, tanpa sekalipun Bunda merasa kau melepasnya. Bunda akan menjadi mata bagimu, mencarikanmu secercah cahaya, dan mentransformasikannya dalam bentuk yang paling indah untuk Bunda serahkan kepadamu.”
Aku sayang Bunda. Dan aku merasa memiliki mata yang sempurna.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar