Jumat, 31 Juli 2009

GooglingNunggingBlogging


bumm bummm...

haduuhh.. sedari tadi berkutat dengan blog, berusaha untuk mengganti layout blog gw yang udah lama gitu gitu mulu.
dari googling sampe nungging juga ga ketemu caranya yang pas buat benerin blog ni, apa emang gwnya yang go-blog ya? haha..
beneran lho udah daritadi nyarinya, usahanya, doanya, haha segitunya, tapi belum ketemu2 ni cara bikin blog biar terlihat bagus.
free template blog, free layout blog, buat blog bagus, semua kata kunci dah dimasukin di mbah google tapi yaaa gitu2 aja,, ribet bangeddd...
haha,, mungkin masih terbawa layout friendster yang begitu mudahnya diganti,, yaudah deh belajar blog lagi, semangad!!
Mumpung liburan, boleh lah membuang-buang waktu dikit demi mengurusi blog gw yang ngga nggenah ini.
Mudah-mudahan malem ini blognya bisa bagus, amin, trus edit2 yang lain..
hahaha,, keep trying gan!!

Kamis, 18 Juni 2009

haaa I'm back


yee... it has been a long time i didn't write this blog.
such an irresponsible deed .. this blog must be my diary start from now.
he? but who will read this blog?
just wait for my story then.. my amazing life..
okey, i have to go sleep now, it's 1 o'clock, and i have lecture at 7 o'clock.
waaa.. c u then >.<

note : i choose this spongebob, cause i want to be "yellow" haaa..

Kamis, 26 Februari 2009

severe headache

astaghfirullah.. sebelumnya mau minta ampunan dulu ke Allah klw hari ini aku merasakan kalah melawan emosi ku..
hari ini lagi risih sama orang yang nada bicaranya ketus banged.. yah,, emang dia gitu c, tapi kali ini aku ngga sanggup lagi buat sabar,..
udah gitu diperparah sama sakit kepala ku yang udah ada 1 minggu terakhir ini,,
pantesan aku akhir2 ini suka depresi, fotofobia(silau mata), mual2, suka marah, dan mudah tersinggung,, dan setelah ku kumpulkan semua itu adalah tanda2 MIGRAIN..
huaa.. padahal udah lama banged aku ngga sakit ini lagi, terakhir sih SMA waktu musim2nya ujian kelas 3..
kok sekarang timbul lagi ya?? mulai 3 minggu yang lalu udah mulai silau mata, pas waktu ujian blok, sampe2 aku mau belajar aja aku harus matiin lampu kamar ku, dan cuma bergantung pada cahaya laptop.. silau bangedd.. hiks..
sakit ni sekarang,, hiaaa.. mudah2an aja cepet smbuh ya... >.< teman2 doakan akuuu...

Selasa, 23 Desember 2008

Denver Test

huaaaa... waktu denver test di tk deket kampus ada kejadian memalukan. bukannya aku yang nyubit pipi anak kecil itu malah pipiku dicubit dengan gemesnya oleh anak tk itu.. malu diliatin temen2.. pipiku ternyatra lebih gembul dibandingkan pipi anak TK.. dan si anak laki2 itu tertawa dengan puasnya ketika aku meringis kesakitan dicubit pipinya.

Melodi


Dentingan piano itu menyiksaku lagi. Membawa angan-anganku yang hampa terbang ke dalam dunia yang penuh ekspektasi. Sebersit harapan terbit dan begitu cepatnya terbenam. Seolah-olah hanya ingin membuatku tersadar. Dentingan itu lagi-lagi membawa senyumnya, matanya yang tajam bak seekor elang ingin menangkap mangsanya. Bukannya takut, justru aku mencarinya, layaknya mangsa yang siap menghadapi kematian yang begitu indah. Sekilas bayangannya hadir kembali membuka paksa pintu hati yang sengaja ku kunci untuknya. Semakin ku tahan semakin terdobraknya pintu itu. Mudah saja, aku hanya cukup meninggalkan dentingan piano itu dan semua pikiranku akan kembali tertata dengan rapi. Acap kali kulakukan itu, tapi dentingan itu membawa serta perasaan yang tak terbendung lagi keinginannya untuk membuka paksa hatiku, membebaskannya karena terlalu lama aku sakit karenanya.


Gerendel pintu itu pun patah, tak sanggup lagi menahan amukan emosi dari sisi yang lain. Dan seketika itu pun mengalirlah perasaan yang telah lama membeku. Begitu derasnya mengalir seirama dengan mengalirnya darah darah di nadi ku kembali. Air mata ini pun menunjukkan kebersamaannya, mengalun deras bersama dengan mengalirnya nada-nada itu. Tanpa permisi, kenangan itu berlari dalam pikiranku membawa serta foto-foto tentang tatapannya,senyumnya,bicaranya, candanya,kecupannya, amarahnya, dinginnya, kelembutannya, kejujurannya, jari-jarinya yang bermain lincah diatas tuts-tuts piano yang sedang kutatap saat ini, dan tentang lirihannya saat merengkuh kesakitan di pelukku. Sebuah emosi yang begitu kutakutkan.


Tuts-tuts ini memainkan hatiku, sangat sakit. Tak ada lagi kematian yang indah. Tanpa suara aku menangis, mencoba memahami makna rintikan air mata yang jatuh. Karena aku hampir tak punya daya lagi untuk bersuara. Hatiku sudah kehilangan nyawanya akibat ulah alunan melodi yang semakin menemukan klimaksnya. Begitu lemahnya hingga aku berteriak di dalam hati, aku sudah lelah menangis saat teringat akan mu, akan kenanganmu, kenangan indah yang sekarang berubah menjadi begitu menyiksa. Aliran perasaan ini berhenti, membuat aliran air mata ini juga ikut berhenti tapi aku mau aliran di nadi ku ini tetap mengalir. Tak sanggup lagi jika aku harus menghentikan aliran itu jika semua aliran mengalir.


Segelas wine yang 2tahun menemaniku telah memiliki maknanya yang terakhir, mengganti pintu ku dengan yang baru, tak cukup hanya mengganti gerendel jika ingin selalu hidup. Hanya kusisakan gantungan hiasan yang lama di pintuku yang baru. Dan itu cukup indah. Cukup, tidak lebih tidak kurang. Alunan melodi itu segera berakhir dengan desert yang indah untuk menutup kesedihanku. Selembar tisu cukup untuk membuatku bangkit, melapisi kembali hatiku dengan perasaan yang baru yang tak mudah membeku. Aku pun beranjak pergi dan mengucap janji tak akan kembali, tidak dengan segelas wine dan air mata. Aku mau menjengukmu sayang, setelah sekian lama. Karena aku tak sanggup melihatmu membujur kaku dibawah bangunan persegi panjang yang ditulisi namamu dan tanggal saat kau pergi. Dan tak sanggup melihat anak-anak kita menitikkan air mata di wajahnya yang lucu. Tunggu aku sayang.

Bundaku sayang..



Cerita ini untuk ibuku... the superhero mom...


Belum habis sisa makanan di piringku, namun aku sudah merasa kenyang. Mungkin aku tak bisa lagi menghabiskannya, bukannya ku tak mau. Sejenak aku beristirahat setelah makan, duduk melamunkan hidupku dengan tatapan hampa. Asik juga pikirku, Bunda sedang ke rumah temannya, jadi aku tidak perlu belajar. Aku lelah kalau setiap hari dikejar-kejar Bunda untuk belajar. Kata Bunda, supaya pintar, jangan mau dikalahkan oleh orang diluar sana. Aku tau maksud Bunda, tapi aku merasa percuma saja aku belajar. Bunda mendaftarkanku les piano, les vokal, dan memasukkanku ke sekolah yang istimewa. Begitu perhatiannya Bunda akan pendidikanku, tapi aku butuh yang lain.


Aku sepertinya butuh secercah cahaya di kehidupanku. Entahlah, padahal Bunda telah memberi semua yang kuinginkan. Tapi aku ingin yang lain. Orang diluar sana sepertinya merasakan kebahagiannya dengan jelas, tapi aku? Aku belum cukup bahagia. Aku hanya hidup dalam bayang-bayang Bundaku, pikirku. Aku ingin merasakan indahnya sinar mentari yang bebas, tapi selalu saja tidak bisa. Aku ingin memandang bunga-bunga indah disana dengan perasaan bahagia, tapi juga tetap tidak bisa. Sepertinya aku memang tidak bisa bahagia, walau sudah memandang hal-hal yang penuh keindahan.


Bunda, berikan aku satu hal itu! Satu hal yang selalu kunantikan setiap hari. Apa? Kasih sayang? Tidak. Aku tidak butuh itu. Kenapa Bunda selalu memberikan kasih sayang ini kasih sayang itu, bermacam-macam kasih sayang. Aku sudah hapal semua jenis kasih sayang Bunda. Ah, Bunda tetap saja tidak bisa memberikan yang satu itu. Kalau begitu, dengan demikian Bunda tidak sepenuhnya sayang padaku.


Di tengah lamunanku, Bunda pun akhirnya pulang. Bunda menghampiriku, bertanya padaku mengapa aku menekuk mukaku dan menyembunyikan senyumku saat dihampiri Bunda. Aku cemberut layaknya anak kecil yang tidak diberi permen. Aku merengek-rengek meminta hal itu, Aku menyalahkan Bunda dan menyesali semua yang ada padaku.


“Bunda, apa Bunda tidak bisa memberiku secercah cahaya itu? Kenapa semua terjadi padaku, Bunda? Memangnya salahku apa sih? Bunda tau? Aku tidak sepenuhnya bahagia dengan keadaan ini.” Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku, tajam bak sebilah pedang yang menghujam hati Bundaku. Baru pertama kali aku membuat Bunda menangis.


Nak, Bunda tau, tapi Bunda tidak bisa, tidak tau caranya. Memang, kasih sayang Bunda tidak cukup untuk menghidupimu dengan keadaan yang layak, keadaan yang bahagia. Asal kau tau, Bunda juga sakit nak melihatmu seperti ini.” Kata-kata Bunda mengalun penuh lirih, kudengar isak tangisnya perlahan seolah sudah dipersiapkan sedari dulu jika aku memang akan menanyakan hal ini. Seluruh jalur-jalur sarafku bekerja membuat tubuh ini seakan tersetrum oleh ucapan Bunda. Aliran listrik yang melumpuhkan hati yang penuh kerasnya.


Isakan tangisnya membuatku tersadar begitu beratnya perjuangan Bunda, begitu besarnya pula ia menginginkan agar aku tetap mendapat kehidupan normal. Semuanya, apa yang telah kudapat selama ini hasil kerja payah Bunda yang merawatku. Bunda bisa saja menyewa pembantu untuk merawatku, tapi tidak ia lakukan, ia ingin anaknya tumbuh dalam asuhannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya aku ikhlas menerima semua ini, keikhlasan yang menjadikan semuanya terasa indah sekarang, aku bahagia sepenuhnya, seutuhnya, tanpa syarat lagi dan itu karena berbagai jenis kasih sayang mu, Bunda. Berbagai jenis kasih sayangnya telah menutupi berbagai jenis kegalauan dan keredupan hati ini.


“Bunda, aku tidak dapat membaca buku begitu pula membaca hatimu, aku hanya dapat meraba setiap kode-kode yang ada di dalamnya, dapatkah juga aku meraba hatimu, meraba semua sakit hati Bunda karenaku dan akan kuhapus dengan segera?”


“Tak perlu meraba nak, hati Bunda sudah kau peluk dengan hangatnya begitu kau lahir ke dunia ini, tanpa sekalipun Bunda merasa kau melepasnya. Bunda akan menjadi mata bagimu, mencarikanmu secercah cahaya, dan mentransformasikannya dalam bentuk yang paling indah untuk Bunda serahkan kepadamu.”


Aku sayang Bunda. Dan aku merasa memiliki mata yang sempurna.

Keliru


Hampir satu jam aku terduduk di taman untuk menanti. Bukan karena dia yang terlambat melainkan aku yang terlalu datang cepat. Aku mau beradaptasi dengan lingkunganku, sekelilingku, untuk bertemu dengannya. Mencoba mengatasi kecanggunganku jikalau ia benar-benar datang. Kadang kita perlu mempersiapkan segalanya untuk menemui seseorang yang kita anggap penting untuk ditemui. Benar-benar penting ataukah kita anggap penting?


Sudah bertahun- tahun aku menunggunya layaknya lilin ulang tahun yang menunggu untuk ditiup. Bahkan selama ini ia tak pernah datang dalam tiupan lilin ulang tahun ku, mengapa aku masih ingin bertemu dengannya? Ia meninggalkanku begitu saja, tanpa alasan yang masih belum bisa kupahami. Aku hanya bisa menangis, merintih, begitu kesakitan hingga membuat ibuku teriris dan menangis bersamaku, ikut masuk dalam ruangan kepedihanku. Ruangan yang kucoba ku tutup rapat-rapat namun apa daya, selalu ku temukan cara kembali ke ruangan itu.


Masih 30 menit lagi sebelum ia datang, dan aku sedari tadi masih belum bisa memikirkan apa yang hendak kuucapkan padanya. Lamunanku menjelajahi kembali kenangan-kenangan yang ada. Begitu bahagianya aku saat itu hingga aku tak mengira aku akan segera masuk dalam jurang kepedihan. Candanya yang selalu membuat air mata ini berhenti menetes. Ucapannya yang selalu menenangkan hati. Ia menghilang, aku sekarat membuat separuh bahkan seluruh denyut kehidupanku terenggut. Mati rasa aku karenanya. Ia yang mengajarkanku cinta, jatuh dalam trampolin cinta, begitu jatuh kau akan dibawanya melayang, menggapai semua inginmu. Indah memang, tapi tidak saat ini.


Lamunanku masih belum bisa mengeluarkan intinya, yang harus aku ucapkan kepadanya. Haruskah aku marah, menangis, atau bahagia? Sebuah perasaan diambang kebimbangan. Sedikit penyesalan terbersit, mengapa tidak menemuinya di rumah, mengapa di luar? Di alam bebas, alam yang begitu kutakutkan. Takut menghadapi bahwa semua nya tidaklah berjalan sesuai keinginan kita. Tapi aku adalah aku, aku yang lebih tegar, ia tak kan bisa membuatku menangis lagi, membuat air mata ku terurai jatuh serupa dengan jatuhnya aku saat memintanya untuk tidak pergi.


Aku tahu, aku harus marah. Ia telah menjadi salah satu kerikil dalam hidupku. Kerikil yang begitu melukai hati yang bersih ini, dan tanpa dosa. Perlahan-lahan amukan emosi memenuhi diri ini. Penuh dengan berbagai tanya mengapa ia meninggalkanku, hingga ia jauh dari kehidupanku kini. Ia jahat, ia yang merubahku menjadi sesosok manusia yang dingin, kaku, dan tanpa daya. Aku benci dia. Aku harus marah padanya, meminta pertanggungjawaban atas semua kepedihan yang ia torehkan dalam hatiku. Begitu dalam. Tapi bagaimanapun, ia pernah membuatku jatuh cinta.


Sudah 5 menit lewat dari jam yang kita tentukan. Kemarin ia menelfonku untuk pertama kalinya dan membuatku terhenyak karena meminta untuk bertemu. Aku sudah lupa wajahnya dengan pasti, hanya samar-samar bayangannya selalu muncul di pikiranku. Yang ku hafal dia memiliki senyum yang mendamaikan hati, mungkin kali ini juga begitu.


Tiba-tiba lamunanku dikejutkan oleh sirine mobil polisi yang datang ke arahku, dan kemudian parkir dipinggir jalan dengan rapi. Pikiranku kosong, apakah ini? Pintu mobil dibuka, seorang polisi keluar diikuti oleh seorang laki-laki tua dan tidak terurus menghampiriku. Ia dikawal dengan ketatnya, menuju kearahku. Sejenak dia menatapku tajam, dan tersenyum padaku. Aku kenal senyuman ini. Begitu lama kita berpandang-pandangan tanpa sepatah katapun terucap. Dinginnya malam ini membekukan mulut kita.


“ Kau Amelia?” kata-katanya untuk pertama kali. Ia menyebut namaku.


“Aku…ayahmu, nak.” Seketika itu juga ia memelukku erat, aku kenal pelukan ini. Pelukan masa kecilku, pelukan yang mengantarkanku untuk tidur. Ia menangis, air matanya membasahi pundakku. Hatiku renyuh, aku merasa tak mampu lagi berdiri. Aku baru saja tahu rahasia ini, ayahku tidak meninggalkanku. Ia terenggut dari kehidupanku menuju jeruji besi yang kejam. Aku telah salah sangka padamu ayah. Aku menangis, mengingkari janjiku untuk tidak menangis karenanya. Begitu eratnya kita berpelukan sehingga tak perlu lagi kata-kata untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini. Aku tahu ia tahu aku tidak marah. Detak jantungnya, detak jantungku mengirimkan kode-kode morse yang tak perlu diisyaratkan lagi.


Semua usai pikirku, sampai seorang polisi berkata padaku bahwa bertemu denganku adalah keinginan terakhir ayahku sebelum ia dihukum mati. Aku merasa nyawaku tercabut paksa, lagi-lagi aku sekarat. Aku memeluknya lebih erat, takut kehilangan lagi. Deras air mataku mengalir, tak ubahnya air matanya.


“Maafkan ayah nak.” Hanya itu kata-kata yang diucapkannya,selebihnya adalah tangisnya, dan tangisku. Perasaan ini memuncak dalam kesedihan. Semua didiriku tahu ini adalah puncak kesedihanku, membawaku jatuh tapi bukan jatuh di trampolin cinta melainkan jatuh dalam jurang. Dan aku tahu aku tak sanggup karenanya.


Seorang polisi menepuk pundaknya, menandakan sudah cukup waktunya. Ia melepaskan pelukanku. Aku tidak mau, tapi aku dipaksa. Ayahku dibawa kembali ke mobil dengan paksa. Aku mengejarnya, merebutnya dari tangan-tangan polisi yang begitu dingin. Tapi aku terjatuh, sama seperti dulu waktu aku memintanya untuk tidak pergi. Aku menangis setengah berteriak memintanya untuk tidak pergi. Tapi aku tak punya daya, mobil itu segera pergi dari jangakauanku, membawa tangisnya yang juga terdengar jelas saat itu.


Aku nelangsa, aku merasakan sedih yang teramat sangat. Kembali terduduk dengan lesu. Menangis merintih, memasuki ruangan kepedihanku yang terbuka dengan sendirinya. Dan segera itu langitpun meneteskan air-air matanya. Hujan membuatku semakin basah, berlomba-lomba dengan air mataku untuk membasahi wajahku. Ayah..